Beberapa waktu lalu ada cerita viral tentang penumpang pesawat yang dikenakan kelebihan bagasi senilai 9 juta rupiah lebih. Saat saya melihat foto bawaannya, saya pikir wajar. Bawaannya banyak sekali. Ada 5 koper. Infonya orang itu banyak membawa titipan dari teman-temannya di Kampung. Titipan ini maksudnya permintaan oleh-oleh. Buat orang Indonesia yang sangat menghargai rasa kekeluargaan, ini hal yang biasa.
Kalau kita cerita ke teman-teman bahwa kita mau tugas ke luar kota, atau mau liburan ke luar pulau, pasti bukannya mereka mendoakan : "Semoga selamat di jalan", atau "Semoga perjalanannya menyenangkan". Tapi hampir semua berpesan : "Jangan lupa oleh-olehnya, ya!!".
Saat terakhir saya bepergian dengan istri, kami juga mengalami hal yang sama. Kami hampir terkena kelebihan bagasi gara-gara oleh-oleh. Padahal sebelum pergi, saya sudah sengaja cuma bawa 3 setel baju pergi, dan 2 setel baju tidur. Saat istri tanya, kok bawa bajunya dikit sekali? Saya jawab, nanti saya laundry bajunya di Hotel. Kalau terpaksa, ya tinggal beli yang murah saja di Yogya. Maksudnya supaya kopernya muat banyak oleh-oleh saat kita pulang nanti. Tapi kenyataannya tidak bisa begitu.
Saat subuh kami tiba di Yogya, kami ke hotel naik becak. Kopernya cuma 2, masih muat ditaroh di kaki kami di becak. Isinya sebagian besar baju, kosmetik, dan perlengkapan istri. Yang namanya wanita mau pergi cuma seminggu, bawaannya seperti mau pindah rumah.
Saat di Yogya hari pertama, bawaan masih aman. Istri cuma beli beberapa kaos oleh-oleh untuk keponakan. Besoknya kami rencana mau sarapan beli gudek. Di dekatnya ada toko barang seni. Istri mulai beli macam-macam. Asbak bentuk cicak, foto Album dengan cover dari daun, wayang, kaos, tempat tisue kain, sarung bantal.
Saya bilang ke istri, "Awas! Nanti kita kebanyakan bawa barang saat pulang ke Jakarta. Soalnya rencana kita mau pulang ke Jakarta naik pesawat. Kalau kena over bagasi mahal."
Jawab istri santai, "Mumpung ada barang bagus, sayang kalau tidak dibeli. Barang seperti itu tidak dijual di toko di Jakarta. Barang-barangnya cocok buat dipajang di ruang tamu rumah kita. Lagian aku beli pakai uang aku sendiri, bukan uang kamu!!". Ya sudah, saya mengalah.
Hari ke tiga, kami rental mobil. Mau ke Magelang nengok keluarga saya yang punya hotel di jalan Brigjen Katamso. Di perjalanan, saya mampir beli oleh-oleh Bakpia Patok Muntilan untuk keluarga. Saya bilang ke istri, tunggu saja di mobil. Maksudnya saya cuma mau beli 2 kotak, sekedar oleh-oleh biar tidak datang dengan tangan kosong. Eh, istri malah ikut turun. Dia beli tape, Getuk Trio dan Bakpia Patok untuk keluarga di Jakarta. Barang bawaan kami mulai banyak. Saya sempat protes ke istri, tapi katanya mumpung ada. Kasihan, keluarganya belum pernah merasakan makanan khas Magelang. Diprotes, dia malahan sengaja nambah belinya. Beli juga oleh-oleh Bakpia Patok beberapa kotak lagi untuk teman-teman kantornya. Katanya tidak enak kalau tidak bawa oleh-oleh untuk teman-teman kantornya. Soalnya semua tahu kalau dia mau liburan ke Yogya.
Di Magelang, kami ngobrol sama keluarga. Kami dapat kabar tentang Paman saya di Bali, katanya sakit keras. Padahal baru bulan lalu kami dikunjungi oleh beliau di Jakarta. Jadinya kami ada ide untuk ke Bali. Melanjutkan liburan di sana, sekalian besuk keluarga yang sakit itu.
Rencana awal, kami di Yogya 5 hari. Pulang Jumat sore supaya Sabtu dan Minggu bisa istirahat. Pulangnya naik pesawat, beli tiketnya Go Show. Kalau tidak dapat tiket pesawat, ya tinggal ganti naik kereta.
Tapi karena kabar ini, kami putuskan jadi cuma 3 hari di Yogya. Rencananya kami jadi pulang Minggu sore, tapi dari Bali pakai penerbangan terakhir. Kata istri, kalau pun terpaksa dia nambah cuti, paling cuma 1 hari. Toh Sabtu dan Minggu memang kantornya libur. Lagian kami belum beli tiket pulang dari Yogya.
Pulang dari Magelang, kami tidak sengaja ketemu toko kerajinan bambu. Saya memang punya mimpi untuk beli payung seperti Sultan Yogya, yang dari kertas itu. Tapi tidak tahu belinya di mana. Keren khan kalau pakai payung seperti punya Sultan Yogya. Eh, mereka jual.
Saya tertarik untuk beli 3 payung parasol kertas seperti di Keraton Yogya untuk tempat makan outdoor restoran kantor di Sukabumi. Tapi bingung cara bawanya. Ada usulan dari penjual agar barang dipaketkan lewat JNE. Ide yang bagus, karena kebetulan kami rental mobil sampai sore. Dan karena beli parasol untuk kantor, artinya ongkos kirim belanjaan kami juga sebagian boleh nebeng biaya kantor. Toh perusahaan tempat saya bekerja milik Paman saya. Akhirnya kami jadi beli 3 payung parasol, 1 payung kecil, 1 kapal anyaman bambu, 2 kentongan bambu dan beberapa kerajinan bambu lainnya. Lalu kami mampir hotel ambil beberapa barang oleh-oleh. Dibantu supir rental, semua dipaketkan ke Jakarta lewat JNE. Dipacking di agennya.
Keesokannya kami ke Bali naik Wings Air. Bawaan cuma sedikit. Eh, istri malah beli lagi oleh-oleh di toko dekat bandara. Hampir saja kami kena over bagasi. Tapi untungnya setelah diperiksa, ada yang boleh ditenteng masuk kabin. Jadi barangnya boleh dipindahkan ke tas tangan. Kami tidak jadi kena over bagasi. Lumayan kalau kena, nilai dendanya ratusan ribu rupiah. Tapi resikonya saya dan istri harus naik tangga pesawat sambil menenteng bawaan lumayan berat. Buat saya tidak masalah, walau saya tahu akhirnya semua tentengan itu saya sendiri yang harus bawa. Istri cuma bawa tas tangan berisi dompet, kamera, dan handphone.
Sampai Bali, rencana untuk menengok paman berubah. Ternyata entah beliau sudah sembuh, atau kabarnya yang salah. Atau sepupu ternyata berbohong supaya saya dan istri mau ke Bali nengok Paman. Beliau kelihatan sehat. Malahan kami ditraktir oleh beliau di restoran Rasa Sayange di Kuta, disupiri beliau sendiri naik mobil antik kesayangannya.
Jadilah di Bali kami leluasa menghabiskan sisa waktu untuk tamasya, berkeliling ke semua tempat wisata di Bali. Dan tentunya bertambah lagi barang bawaannya. Kami beli patung kayu dan lukisan ikan koi buat oleh-oleh mertua saya, kaos Bali buat keponakan, Bakpia Legong dan sosis Titiles, kacang Bali, Kopi Bali, patung dari tulang sapi, kentongan Leak dari kayu, perahu perak, air mancur dari bambu untuk dekorasi resepsionis kantor. Tapi kali ini kami tidak khawatir kena over bagasi pesawat. Sudah tahu triknya.
Di hari-hari awal kami hanya jalan dan belanja sekitar Kuta. Kadang jalan kaki, kadang naik taksi. Hari Sabtu dan hari Minggu kami sengaja rental mobil. Sabtu arah Jimbaran, Sanur, Titiles dan Tampak Siring. Minggu arah Ubud pulangnya ke Tanah Lot, langsung Bandara.
Minggu pagi kami paketkan dulu oleh-oleh lewat JNE. Untung supir rental kami termasuk yang terbiasa membantu memaketkan barang. Supir kami menunjukkan JNE yang buka hari Minggu. Lokasinya memang agak jauh dari Hotel, tapi pelayanannya sangat profesional. Saya ingat lokasinya lewat gereja yang gedungnya penuh ukiran Bali. Agen JNE membantu kami untuk packing barang. Kami tinggal serahkan barang, menonton semua barang dibungkus, dan bayar.
Setelah itu kami jalan-jalan ke Ubud. Pertama ke Monkey Forest. Lalu ke Pasar Seni Ubud. Ada lukisan yang istri saya mau beli, tapi ragu-ragu karena harganya lumayan mahal. Supir membawa kami ke Museum Blanco untuk bahan pertimbangan, tapi lukisannya ternyata jauh lebih mahal. Lalu kami makan siang di restoran tepi sawah dari kayu, di lantai 2 dekat Pasar Seni Ubud. Sambil istri berpikir, jadi atau tidaknya beli lukisan di Pasar Seni Ubud.
Tadinya rencana kami mau ke Tanah Lot, tapi takut tidak terkejar jadwal check in pesawat. Saran dari pengemudi Rental, lebih baik kami langsung menuju Bandara setelah makan.
Jadi kami putuskan langsung ke Bandara setelah makan, tidak jadi ke Tanah Lot. Tapi mampir ke Pasar Seni Ubud untuk beli lukisan yang ditaksir oleh istri saya. Saya turun membeli lukisan, sedangkan istri dan sopir menunggu di mobil. Kebetulan parkir di Pasar Seni Ubud selalu penuh, jadi mobil menunggu di luar Pasar Seni Ubud.
Setelah itu kami langsung menuju Bandara Ngurah Rai. Bawaan cuma 1 koper yang masuk bagasi, gulungan lukisan di tangan, dan satu tas tenteng. Kami tidak terkena over bagasi, walau beli banyak oleh-oleh.
Sampai Jakarta, ternyata kiriman oleh-oleh dari Yogya sudah sampai. Makanan sudah dibagikan ke keluarga. Rupanya istri sudah memberi instruksi ke adik ipar untuk segera membagi oleh-oleh makanan, supaya tidak keburu rusak.
Kiriman dari Bali sampai beberapa hari kemudian. Semua sampai dengan aman. Semua keluarga dan teman dapat oleh-oleh.
Itu cara kami untuk belanja banyak oleh-oleh saat tamasya, tanpa kena over bagasi pesawat. Yaitu dengan memanfaatkan JNE untuk kirim oleh-oleh.
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita





No comments:
Post a Comment